Categories
Pendidikan

Ekonomi Manajerial

Ekonomi Manajerial

Ekonomi Manajerial

Produsen memaksimumkan keuntungan mereka, konsumen memaksimumkan utility mereka. Letakkan mereka dalam struktur pasar bersaing sempurna. Hasilnya, kesejahteraan mereka bisa mencapai pada tingkat tertinggi. Artinya, tidak ada alokasi sumber daya lain yang bisa mengunggulinya. Ini adalah esensi hukum kesejahteraan ekonomi yang pertama. Skenario ini adalah sistem perekonomian yang paling efisien. Artinya, dengan input tertentu perekonomian akan menghasilkan output yang maksimal. Dalam kondisi seperti ini tentu saja pemerintah tidak mempunyai pembenaran untuk melakukan intervensi.

Pemerintah bisa melakukan intervensi apabila ada inefisiensi. Inefisiensi akan muncul apabila terjadi kegagalan pasar (market failures). Pasar tidak gagal apabila semua harga yang terbentuk bisa mengalokasikan sumber daya paling efisien. Kondisi ini terjadi apabila semua pasar, baik produk maupun faktor produksi, mempunyai struktur pasar bersaing sempurna.

 

Regulasi Karena Alasan Politik

Ekonom selalu mengasumsikan pelaku ekonomi sebagai profit (utility) maximizer karena pelaku ekonomi memang berperilaku demikian. Konsumen, produsen dan regulator juga manusia, semuanya profit maximizer yang rasional.

 

Teori Menangkap Regulator

Produsen akan melobi untuk mempengaruhi regulator supaya bersedia menetapkan tarif. Oleh karena tarif menguntungkan produsen, produsen bisa “menangkap” regulator untuk mendapatkan proteksi berupa tarif. Argumen ini disebut capture theory. Capture theory mengatakan bahwa produsen (konsumen) bisa menangkap regulator untuk membuat regulasi yang sesuai dengan keinginan produsen (konsumen). Capture theory memberikan prediksi bahwa regulasi yang ada sesuai dengan keinginan pihak yang mempunyai pengaruh besar pada regulator.

Siapa yang bisa menangkap regulator? Tentu saja pihak yang menangkap regulator adalah pihak (kelompok) yang bisa menaikkan utility regulator. Secara individual biasanya produsen atau konsumen tidak bisa mempengaruhi regulator. Namun, secara bersama (organisasi) mereka mampu mempengaruhi regulator. Jadi, mereka yang mampu meng-organisasikan kelompoknya, mereka yang mampu mempengaruhi regulator

Negara yang sedang berkembang biasanya mengandalkan perolehan ekspornya dari sektor kebutuhan primer, yaitu bahan-bahan makanan dan bahan-bahan baku. Permintaan barang-barang ini mempunyai elastisitas pendapatan yang rendah (Engel’s law). Oleh karena itu, suatu negara tidak bisa mengandalkan produk-produk tersebut untuk menopang strategi pertumbuhannya. Dikatakan bahwa produk-produk pertanian tradisional tidak bisa menjadi engine of growth suatu negara.

Upaya mengembangkan produk-produk pertanian akan membuat perekonomian “terperangkap” dalam pola proses produksi barang-barang primer/pertanian. Hal ini tentu saja akan mengurangi alokasi resources perekonomian ke sektor lainnya, misalnya sektor manufaktur yang mempunyai elastisitas pendapatannya tinggi. Perdagangan internasional akan mampu bertindak sebagai lokomotif pembangunan jika berbasis pada sektor yang mempunyai elastisitas pendapatan tinggi seperti manufaktur.

 

 

1. Argumen Upah di Negara Partner yang Murah

Biasanya, untuk industri tertentu, negara yang sudah berkembang, misalnya A.S. khawatir terhadap masuknya barang-barang yang diproduksi dengan tenaga kerja dari negara lain yang murah. Argumen ini akan menjadi lebih ekstrim dengan tambahan argumen bahwa tingkat upah tinggi dari negara yang sudah maju akan konvergen dengan tingkat upah yang lebih rendah dari negara yang sedang berkembang. Ross Perot berkomentar tentang NAFTA: “ …Mexican wages will come up to $ 7.5 an hour and our wages will come down to $ 7.5 an hour.” Oleh karena itu, kelompok yang merasa berpotensi dirugikan akan berusaha untuk mendapatkan proteksi berdasarkan argumen tersebut.

Ada beberapa kesalahan dalam argumen tersebut. Pertama, tenaga kerja AS mempunyai tingkat gaji yang lebih tinggi karena produktivitasnya tinggi. Kedua, yang harus ditekankan adalah pola perdagangan disebabkan oleh keunggulan komparatif, bukan karena tingkat gaji ataupun keunggulan absolut, dan tingkat upah ditentukan oleh efisiensi atau produktivitas pekerja, bukan karena hambatan perdagangan.

 

 

2. Retaliasi

Hambatan perdagangan, misalnya tarif, bisa muncul karena alasan retaliasi (balasan). Negara A mengenakan tarif terhadap produk tertentu dari negara B karena B mengenakan tarif terhadap produk dari A.

Tarif war ini selain bisa memunculkan tarif, juga memberikan insentif bagi suatu negara untuk tidak memulai mengenakan tarif terhadap produk dari negara lain. Oleh karena itu, rule of the game dalam perdagangan internasional yang berpola tit-for-tat ini justru mampu mengeliminasi tarif.

Dalam picking winner, pemerintah menentukan produk unggulan (the winner) dalam perekonomian, misalnya tekstil. Namun, yang menentukan the winner adalah pasar (harga), bukan pemerintah. Harga (pasar) akan mengarahkan sumber daya secara benar. Ingat bahwa harga mempunyai kemampuan untuk mengalokasikan sumber daya yang paling efisien.

 

 

3. Kebijakan yang Tidak Netral (Bias)

Tarif dan NTBs adalah instrumen pemerintah untuk melakukan intervensi sebuah perekonomian. Dalam realita, tarif dan NTBs muncul karena alasan-alasan infant industry argument, rent seeking, kompetisi dengan tenaga kerja asing, dan retaliasi. Alasan-alasan tersebut tidak sesuai dengan argumen gains from trade seperti yang ditunjukkan oleh comparative advantage (keunggulan komparatif).

Secara umum, tarif dan NTBs bias ke sektor atau produk tertentu. Akibatnya, sektor-sektor pilihan akan menyedot resources perekonomian yang terbatas. Oleh karena itu, tarif dan nontarif akan membuat pertumbuhan perekonomian menjadi timpang.

Biasanya, untuk perekonomian sebuah negara agraris yang sedang berkembang akan cenderung mengandalkan sektor non-agraria sebagai lokomotif pertumbuhan karena permintaan akan komoditi agraria tidak elastis (Engel’s law). Hal ini akan memunculkan dilema, di negara agraris tersebut sektor agraria menjadi terbelakang. (Negara agraris adalah negara yang sebagian besar penduduknya bekerja di sektor agraria).

Tarif untuk suatu barang biasanya mempunyai dampak negatif terhadap barang lainnya. Tarif untuk memberikan proteksi industri yang sedang turun kinerjanya karena adanya inefisiensi dari kompetisi internasional akan menolong mengurangi pengangguran di industri tersebut. Akan tetapi, di lain pihak, konsumen harus menanggung beban harga yang lebih tinggi.

 

 

4. Laissez Faire dan Keunggulan Komparatif

Pada prinsipnya, intervensi perdagangan internasional tidak membuat perekonomian menjadi lebih baik. Barangkali hampir semua ekonom tidak mendukung adanya hambatan perdagangan internasional baik tarif maupun NTBs. Oleh karena itu, perekonomian dunia diskenariokan pada tahun 2020 menjadi bebas, bebas dari hambatan perdagangan internasional. (Angka 2020 diambil dari istilah kedokteran yang menggambarkan penglihatan yang jelas.) Banyak argumen bahwa negara yang sedang berkembang akan “tergilas” oleh perdagangan internasional. Argumen ini adalah argumen short sighted (jangka pendek).

Apabila tarif dihapus, sebagian produsen domestik akan gulung tikar. Mereka yang gulung tikar adalah produsen yang tidak efisien dibanding produsen sejenis yang ada di dunia. Setelah gulung tikar, mereka akan berupaya pindah ke sektor lain yang lebih efisien dan sesuai dengan keunggulan komparatif mereka. Mereka akan beroperasi tanpa harus diintervensi atau dilindungi. Jadi, harga internasional menunjukkan kepada sebagian produsen yang salah memilih sektor dan mengarahkan mereka untuk memilih ke sektor yang lebih cocok.

Argumen yang harus diingat bahwa semua produsen (negara) mempunyai keunggulan komparatif. Perhatikan bahwa seorang konglomerat pasti bisa mencuci bajunya sendiri dengan bersih dan rapi, lebih bersih dari hasil cucian pembantunya. Namun, konglomerat tersebut tetap menyewa pembantu untuk mencuci pakaiannya. Tenaga kerja Amerika Serikat bisa menjahit lebih bagus dibanding tenaga kerja Cina. Namun, perusahaan lebih menguntungkan merelokasi aktivitas penjahitan ke Cina. Cina mempunyai keunggulan komparatif dalam menjahit terhadap Amerika Serikat.

 

Sumber : https://seputarilmu.com/