Categories
Pendidikan

Fungsi Utility

Fungsi Utility

Fungsi Utility

Jika A makan tempe. A yang sedang lapar akan menghabiskan berapa buah tempe? Tempe pertama memberikan kepuasan (utiliti) kepada A sebesar 7, lihat Gambar 2.1. Gambar 2.1 menggambarkan fungsi utiliti A. Tempe kedua memberikan tambahan utiliti 2 kepada A. Tempe ketiga memberikan utiliti 1 kepada A. Stop! A tidak mengambil tempe keempat.

Mengapa A tidak mengambil tempe keempat? Perhatikan gambar fungsi utiliti A. Tempe keempat akan memberikan tambahan kepuasan relatif amat kecil dibanding tempe ke tiga, apalagi tempe pertama.

Misalkan, harga sebuah tempe adalah Rp1.000,00. Misalkan, A menilai pengeluaran Rp1.000,00 pertama menyebabkan utiliti-nya turun 0,25 saja. Tentu saja A amat senang menukar uang seribu pertamanya dengan tempe pertamanya yang memberi tambahan utiliti 7. Kemudian, A menilai pengeluaran 1000 kedua menyebabkan utiliti-nya turun 0,5. Tempe kedua memberikan tambahan utiliti 2. A dengan senang menukar uang seribu keduanya dengan tempe kedua. Apabila untuk kehilangan 1.000 ketiganya, utiliti A turun 1. Dan, tempe ketiga memberikan kepada A tambahan utiliti sebesar 1 juga. A indifferent (tidak berbeda) terhadap uang 1.000 ketiganya dan tempe ketiganya.

Bagaimana dengan tempe keempat. Tempe keempat memberikan utiliti kepada A sebesar 0,1. Untuk mendapatkan tempe keempat tersebut, A harus mengeluarkan uang 1.000 keempatnya. Misalnya, utiliti A akan turun 2 apabila kehilangan seribu keempatnya, A tidak bersedia menukar uang 1.000 keempatnya dengan tempe keempat. Jadi, A membeli hingga tempe ke tiga. Dikatakan bahwa permintaan individual A terhadap tempe pada harga 1000 adalah 3 buah.

Perhatikan bahwa penurunan marjinal utiliti setiap penurunan kekayaan sebesar Rp1000,00 semakin membesar. Argumen ini adalah interpretasi lain dari law of diminihing return dalam utiliti (hukum pertambahan yang berkurang). Awalnya A tidak mempunyai uang. Seribu pertama akan memberikan utiliti 2. Seribu kedua memberikan utiliti 1. Seribu ketiga memberikan utiliti 0,5. Marjinal utiliti seribu keempat adalah 0,25.

Law of Diminishing Returns

Pertambahan utiliti karena pertambahan konsumsi sebuah tempe disebut marjinal utiliti (MU) tempe. Marjinal utiliti tempe pertama lebih besar dibanding dengan marginal utiliti tempe kedua. Marginal utiliti tempe kedua lebih besar dibanding dengan marjinal utiliti ketiga dan seterusnya. Fenomena penurunan marjinal utiliti ini adalah salah satu bentuk dari hukum pertambahan yang berkurang (law of diminishing returns) dalam utiliti.

Kondisi Optimal

Perhatikan bahwa A berhenti pada konsumsi ketiga, yaitu pada saat marjinal utiliti tempe ketiga sama dengan marjinal utiliti uang 1.000 ketiga A, yaitu sama-sama satu. A mengoptimalkan konsumsinya dengan membeli tiga tempe.

MU tempe > MU 1.000 rupiah, tambah tempe.

MU tempe < MU 1.000 rupiah, kurangi tempe.

MU tempe = MU 1.000 rupiah, pas.

A akan mencapai tingkat konsumsi tempe yang optimal bila tempe terakhir yang dibeli memberikan utiliti yang sama dengan tingkat utiliti yang diberikan oleh uang sebesar harga tempe terakhir tersebut atau kondisi optimal A adalah nilai marjinal utiliti (value marginal utility, VMU) tempe yang dibeli terakhir sama dengan
harga tempe.

Ingat dalam membandingkan dua hal harus bersifat apple-to-apple, jadi satuan marjinal utiliti tempe harus sama dengan satuan harga tempe. Untuk membandingkan dua barang yang berbeda kita mempunyai alat pembanding (alat tukar) yang universal, yaitu uang. Asmuni, pelawak Srimulat, mengatakan bahwa “Keris ini asalnya dari ular.

Teori Alokasi Harga

Perhatikan berapa banyak A mengonsumsi tempe. Selain tingkat kesukaan A terhadap tempe yang tercermin dalam fungsi utiliti-nya, faktor harga memegang peranan penting. Apabila harga rendah, A akan membeli tempe lebih banyak. Sebaliknya, apabila harga tempe naik, A akan membeli tempe lebih sedikit. Cerita simpel ini adalah salah satu dari fenomena dari apa yang disebut teori alokasi harga (price allocation theory).

Konsumsi dan Eksternalitas

Dalam ilmu ekonomi menganut prinsip tidak ada sesuatu yang gratis (there is no such a free lunch). Harga harus benar. Ini adalah esensi ilmu ekonomi. A merokok. B yang tidak merokok terpaksa menghirup asap rokok yang diakibatkan A mengonsumsi rokok. B merasa tidak nyaman. Utiliti B turun. Prinsip tidak ada sesuatu yang gratis mengharuskan A untuk memberikan kompensasi kepada B sehingga utiliti B kembali pada posisi semula. Upaya pemerintah DKI Jakarta untuk menghukum perokok yang mengeluarkan eksternalitas negatif mendapatkan pembenaran.

 

Sumber : https://sarjanaekonomi.co.id/